Kamis, 10 Maret 2011
kognitivisme
Perkembangan merupakan suatu deretan perubahan-perubahan yang tersusun dan berarti, yang berlangsung pada individu dalam jangka waktu tertentu. Lebih menujuk pada kemajuan mental atau perkembangan rohani yg melaju terus sampai akhir hayat yaitu merupakan proses yang sifatnya menyeluruh/holistic mencakup proses biologis dan kognitif, dan psikososial dan terdapat beberapa teori pembelajaran.
Kognitif merupakan teori yang, berdasarkan proses berpikir di belakang perilaku. Peruhahan perilaku diamati dan digunakan sebagai indikator terhadap apa yang terjadi dalam otak peserta didik.
Pelopor teori kognitif yang terkenal adalah Jean Piaget. Gagasan utama teori kognitif adalah perwakilan mental. semua gagasan dan citraan (image) seseorag diwakili dalam struktur mental yang disebut skema. Skema akan menentukan bagaimana data dan informasi yang diterima akan dipahami seseorang . Jika informasi sesuai dengan skema yang ada, maka peserta didik akan menyerap informasi tersebut ke dalam skema ini. Seandainya tidak sesuai dengan skema yang ada, informasi akan ditolak atau diubah, atau disesuaikan dengan skema, atau skema yang akan diubah dan disesuaikan.
Penganut teori kognitif mengakui bahwa belajar melibatkan penggabung an-penggabungan (associations) yang dibangun melalui keterkaitan atau penguatan. Mereka juga mengakui pentingnya penguatan (reinforcement) walaupun lebih menekankan pada pemberian balikan (feedback) pada tanggapan yang benar dalam perannya sebagai pendorong (motivator). Walaupun menerima sebagian konsep dari behavioris, para penganut teori kognitif memandang belajar sebagai perbuatan penguasaan atau penataan kembali struktur kognitif di mana seseorang memproses dan menyimpan informasi (Good dan Brophy, 1990, hal. 187).
Permasalahan
Pada makalah ini akan di bahas mengenai apa pengertian dari teori belajar kognitivisme, bagian-bagiannya dan implikasi dalam kegiatan belajar mengajar di kelas khususnya untuk peserta didik usia SD dan semua yang berkaitan dengan Teori belajar Kognitivisme yang ada.
Tujuan
Setelah kita memahami teori belajar kognivisme kita dapat mengetahui arti dari teori pembelajaran tersebut dan bagian-bagiannya serta mengimplikasikan teori kognitivisme dalam kegitan belajar mengajar.
Dan sebagai seorang guru, kita dapat mengetahui perbedaan antara jenis-jenis perbedaan diantara teori-teori pendidikan yang ada dan di terapkan di kelas nantinya.
Pembahasan
TEORI BELAJAR KOGNITIVISME
Teori kognitivisme mengacu pada wacana psikologi kognitif, dan berupaya menganalisis secara ilmiah proses mental dan struktur ingatan atau cognition dalam aktifitas belajar. Cognition diartikan sebagai aktifitas mengetahui, memperoleh, mengorganisasikan dan menggunakan pengetahuan ( Lefrancois, 1985). Tekanan utama psikologi kognitif adalah struktur kognitif yaitu perbendaharaan pengetahuan pribadi individu yang mencakup ingatan jangka panjang (long term mamory). Psikologi kognotif memandang manusia sebagai makhluk yang selalu aktif mencari dan menyeleksi informasi untuk diproses. Perhatian umum psikologi kognitif adalahn pada upaya memahami proses individu, mencari, menyeleksi, mengorganisasikan dan menyimpan informasi. Belajar kognitif berlangsung berdasarkan skemata atau struktur mental individu yang mengorganisasikan pengamatannya.
Definisi Teori Belajar Kognitivisme
Model kognitif mulai berkembang pada abad terakhir sebagai protes terhadap teori perilaku yang yang telah berkembang sebelumnya. Model kognitif ini memiliki perspektif bahwa para peserta didik memproses infromasi dan pelajaran melalui upayanya mengorganisir, menyimpan, dan kemudian menemukan hubungan antara pengetahuan yang baru dengan pengetahuan yang telah ada. Model ini menekankan pada bagaimana informasi diproses.
Peneliti yang mengembangkan kognitif ini adalah Ausubel, Bruner, dan Gagne. Dari ketiga peneliti ini, masing-masing memiliki penekanan yang berbeda. Ausubel menekankan pada apsek pengelolaan (organizer) yang memiliki pengaruh utama terhadap belajar. Menurut Ausubel, konsep tersebut dimaksudkan untuk penyiapan struktur kognitif peserta didik untuk pengalaman belajar. Bruner bekerja pada pengelompokkan atau penyediaan bentuk konsep sebagai suatu jawaban atas bagaimana peserta didik memperoleh informasi dari lingkungan.
Bruner mengembangkan teorinya tentang perkembangan intelektual, yaitu:
1. enactive, dimana seorang peserta didik belajar tentang dunia melalui tindakannya pada objek;
2. iconic, dimana belajar terjadi melalui penggunaan model dan gambar; dan
3. symbolic yang mendeskripsikan kapasitas dalam berfikir abstrak
Prinsip-Prinsip Konsep Belajar Kognitivisme
Prinsip-prinsip teori belajar bermakna Ausebel ini dapat diterapkan dalam
proes belajar mengajar melalui tahap-tahap sebagai berikut:
1. Mengukur kesiapan peserta didik seperti minat, kemampuan dan struktur
kognitifnya melalui tes awal, interview, review , pertanyaanpertanyaan dan lain-lain tehnik
2. Memilih materi-materi kunci, lalu menyajikannya dimulai dengan contoh-contoh kongkrit dan kontraversial
3. Mengidentifikasi prinsip-prinsip yang harus dikuasi dari materi baru itu
4. menyajikan suatu pandangan secara menyeluruh tentang apa yang harus dipelajari,
5. memakai advance organizers
6. mengajar peserta didik memahami konsep-konsep dan prinsip-prinsip yang ada dengan memberikan fokus pada hubungan-hubungan yang ada
Menurut Hartley & Davies (1978), prinsip-prinsip kognitifisme dari beberapa contoh diatas banyak diterapkan dalam dunia pendidikan khususnya dalam melaksanakan kegiatan perancangan pembelajaran. Prinsip-prinsip tersebut adalah
1) Peserta didik akan lebih mampu mengingat dan memahami sesuatu apabila pelajaran tersebut disusun berdasarkan pola dan logika tertentu
2) Penyusunan materi pelajaran harus dari yang sederhana ke yang rumit. Untuk dapat melakukan tugas dengan baik peserta didik harus lebih tahu tugas-tugas yang bersifat lebih sederhana
3) Belajar dengan memahami lebih baik dari pada menghapal tanpa pengertian. Sesuatu yang baru harus sesuai dengan apa yang telah diketahui siswa sebelumnya. Tugas guru disini adalah menunjukkan hubungan apa yang telah diketahui sebelumnya
4) Adanya perbedaan individu pada siswa harus diperhatikan karena faktor ini sangat mempengaruhi proses belajar siswa. Perbedaan ini meliputi kemampuan intelektual, kepribadian, kebutuhan akan suskses dan lain-lain. (dalam Toeti Soekamto 1992:36)
Peranan Model Kognitivisme dalam Pembelajaran
Belajar kognitif
Karakteristik Teori :
Belajar adalah perubahan persepsi dan pemahaman. Perubahan persepsi dan pemahaman tidak selalu berbentuk perubahan tingkah laku yang bisa diamati. Setiap orang telah mempunyai pengalaman dan pengetahuan didalam dirinya.
Belajar : Kognitif Bruner
Karakteristik Teori :
Model ini sangat membebaskan peserta didik untuk belajar sendiri. Teori ini mengarahkan peserta didik untuk belajar secara discovery learning.
Langkah penerapan dalam pembelajaran :
1) Menentukan tujuan-tujuan instruksional
2) Memilih materi pelajaran
3) Menentukan topik-topik yang akan dipeserta didiki
4) Mencari contoh-contoh, tugas, ilustrasi dsbnya., yang dapat digunakan peserta didik untuk bahan belajar
5) Mengatur topik peserta didik dari konsep yang paling kongkrit ke yang abstrak, dari yang sederhana ke kompleks
6) Mengevaluasi proses dan hasil belajar
Belajar : Bermakna Ausubel
Karakteristik Teori :
Dalam aplikasinya menuntut peserta didik belajar secara deduktif (dari umum ke khusus) dan lebih mementingkan aspek struktur kognitif peserta didik.
Langkah penerapan dalam pembelajaran :
1. Menentukan tujuan-tujuan instruksional
2. Mengukur kesiapan peserta didik (minat, kemampuan, struktur kognitif)baik melalui tes awal, interviw, pertanyaan dll.
3. Memilih materi pelajaran dan mengaturnya dalam bentuk penyajian konsep-konsep kunci
4. Mengidentifikasikan prinsip-prinsip yang harus dikuasai peserta didik dari materi tsb.
5. Menyajikan suatu pandangan secara menyelurh tentang apa yang harus dikuasai pesertadidik.
6. Membuat dan menggunakan "advanced organizer" paling tidak dengan cara membuat rangkuman terhadap materi yang baru disajikan, dilengkapi dengan uraian singkat yang menunjukkan relevansi (keterkaiatan) materi yang sudah diberikan dengan yang akan diberikan.
7. Mengajar peserta didik untuk memahami konsep-konsep dan prinsip-prinsip yang sudah ditentukan dengan memberi fokus pada hubungan yang terjalin antara konsep yang ada
8. Mengevaluasi proses dan hasil belajar
Teori Perkembangan Model Kognitivisme
Berpijak pada tiga teori belajar seperti dijelaskan di atas, maka dalam pengembangan model pembelajaran harus selaras dengan teori belajar yang dianut. Dengan kata lain, apabila kita menganut teori behaviorisme, maka model pembelajaran yang dapat digunakan diantaranya adalah model pembelajaran yang tergolong pada kelompok perilaku. Untuk penganut teori kognitivisme, model pembelajaran yang dapat digunakan adalah model pembelajaran yang mengarah pada proses pengolahan informasi. Adapun untuk yang menganut teori belajar konstruktivisme, maka model pembelajaran yang dikembangkan adalah model pembelajaran yang bersifat interaktif dan model pembelajaran yang berpusat pada masalah. Hal ini didasarkan pada salah satu prinsip yang dianut oleh konstruktivisme, yaitu bahwa setiap siswa menstruktur pengetahuannya sendiri berdasarkan pengalaman dan hasil interaksinya dengan lingkungan sekitar. Jadi pengetahuan itu tidak begitu saja diberikan oleh guru.
a. Teori pengembangan kognitif
Teori ini dikemukakan oleh Jean Piaget yang memandang individu sebagai struktur kognitif, peta mental, skema atau jaringan konsep guna memahami dan menanggapi pengalaman berinteraksi dengan lingkungan. Pandangan Piaget digambarkan lewat bagan prilaku intelegen sebagai berikut.
Individu bereaksi pada lingkungan melalui upaya mengasimilasikan berbagai informasi ke dalam struktur kognitifnya. Dalam proses asimilasi tersebut, perilaku individu diperintah struktur kognitifnya. Waktu mengakomodasi lingkungan, struktur kognitif diubah lingkungan. Asimilasi ditempuh individu menyatukan informasi baru keperbendaharaan informasi yang sudah dimiliki atau diketahui kemudian menggantinya dengan informasi terbaru. Individu mengorganisasikan makna informasi itu ke dalam ingatan jangka panjang (long term memory). Ingatan jangka panjang yang terorganisasi inilah yang diartikan sebagai struktur kognitif. Struktur kognitif berisikan tentang coding yang mengandung segi-segi intelek yang emngatur dan memerintah perilaku individu; perilaku individu mendasari penetapan tahap-tahap perkembangan kognitif. Tiap tahap perkembangan menggambarkan isi struktur kognitif yang khas sesuai perbedaan antar tahapan. Pada bagian berikut dirangkum garis besar tahapan perkembangan kognitif versi piaget :
1) Sensorimotor inteligence (lahir sampai usia 2 Tahun) : perilaku terikat pada panca indra dan gerak motorik. Bayi belum mampu berpikir konseptuan namun perkembangan kognitif telah dapat diamati.
2) Preoperation thought, (2-7 tahun) : tampak kemampuan berbahasa, berkembang pesat penguasaan konsep. Bayi belum mampu berpikir konseptual namun perkembangan kognitif telah dapat diamati.
3) Concerete Operation (7-11 tahun) : berkembang daya kemampuan anak berpikir logis untuk memecahkan masalah kongkrit. Konsep dasar benda, jangka waktu, ruang, kausalitas.
4) Formal Operations (11-15 tahun) : kecepatan kognitif mencapai puncak perkembangan. Anak mampu memprediksi berpikir tentang situasi hipotesis, tentang hakikat berpikir serta emngapresiasikan struktur bahasa dan berdialog. Sarkasme, bahasa gaul, mendebat, berdalaih adalah sisi bahasa remaja merupakan cerminan kecakapan berpikir abstrak dalam atau melalui bahasa.
Implikasi teori perkembangan kognitif Piaget dalam pembelajaran adalah :
1. Bahasa dan cara berfikir anak berbeda dengan orang dewasa. Oleh karena itu guru mengajar dengan menggunakan bahasa yang sesuai dengan cara berfikir anak.
2. Anak-anak akan belajar lebih baik apabila dapat menghadapi lingkungan dengan baik. Guru harus membantu anak agar dapat berinteraksi dengan lingkungan sebaik-baiknya.
3. Bahan yang harus dipelajari anak hendaknya dirasakan baru tetapi tidak asing.
4. Berikan peluang agar anak belajar sesuai tahap perkembangannya.
5. Di dalam kelas, anak-anak hendaknya diberi peluang untuk saling berbicara dan diskusi dengan teman-temanya.
b. Teori Kognisi Sosial
Teori ini dikemukakan oleh L.S Vygotsky yang didasarkan oleh pemikiran bahwa budaya berperan penting dalam belajar seseorang. Budaya adalah penentuan perkembangan, tiap individu berkembang dalam konteks keluarga. Budaya lingkungan individu mempelajari apa dan b agaimana berpikir. Konsep dasar teori ini diringkas sebagai berikut :
1) Budaya memberi sumbangan perkembangan intelektual individu melalui 2 cara yaitu : (i) budaya dan (ii) lingkungan budaya. Melalui budaya banyak isi pikiran (pengetahuan) individu diperoleh seseorang dan melalui lingkungan budaya sarana adaptasi intektual bagi individu berupa proses dan sarana berpikir bagi individu dapat tersedia.
2) Perkembangan kognitif dihasilkan dari proses dialegtis dengan cara berbagai pengalaman belajar dan pemecahan masalah bersama orang lain, terutama orang tua, guru, saudara sekandung dan teman sebaya.
3) Awalnya orang berinteraksi dengan individu memikul tanggung jawab membimbing pemecahan masalah, lambat laun tanggung jawab tersebut akan diambil sendiri oleh individu yang bersangkutan.
4) Bahasa adalah sarana primer interaksi orang dewasa untuk menyalurkan sebagian besar perbendaharaan pengatahuan yang hidup dalam budayanya.
5) Seraya bertumbuh kembang, bahasa individu sendiri adalah sarana primer adaptasi intelktual, ia berbahasa batiniah untuk mengendalikan perilakunya.
6) Internalisasi mengacu pada proses belajar. Menginternalisasikan pengetahuan dan alat berpikir adalah hal pertama kali hadir ke kehidupan individu melalui bahasa.
7) Terjadi zone of proxima development atau kesenjangan antara yang sanggup dilakukan individu itu sendiri dengan yang dapat dilakukan oleh orang dewasa.
8) Karena apa yang dipelajari individu berasal dari budaya dan banyak diantara pemecahan masalahnya ditopang orang dewasa, maka pendidiknya hendaknya tidak berpusat pada individu dalam isolasi dari budayanya.
9) Interaksi dengan budaya sekeliling dan lembaga-lembaga sosial sebagaimana orangtua, saudara sekandung, individu dan teman sebaya yang lebih cakap sangat memberi sumbangan kepada perkembangan intelektual individu secara nyata.
Konsep zone of proximal development pada zona yang mana individu memerlukan bimbingan guna melanjutkan belajarnya. Perlu identifikasi zona itu dan memastikan tuntutan pembelajaran tidak melampaui atau lebih rendah dari kapasitas belajar individu. Dalam pembelajaran ada Scaffolding (contigent teaching), yaitu pendekatan pembelajaran yang ebrtitik tolak pada pemahaman dan kecakapan peserta didik daat itu
c. Teori Pemrosesan Informasi
Berdasarkan temuan riset linguistik, psikologi, antropologi dan ilmu komputer, dikembangkan model berpikir. Pusat kajiannya pada proses belajar dan menggambarkannya cafra individu memanipulasi simbol dan memproses informasi.
Model belajar pemroses informasi ini sering pula disebut model cognitive informasion processing, karena dalam proses belajar ini tersedia tiga tahap struktual sistem informasi yaitu :
1. Sensory atau Intake Register. Informasi masuk ke sistem melalui sensory registe, tetapi hanya disimpan untuk periode waktu terbatas. Agar tetap dalam sistem, informasi masuk ke working mamory yang digabungkan dengan informasi di long-term mamory
2. Working Mamory : pengerjaan atau operasi informasi berlangsung di working mamory dan disini berlangsung berpikir yang sadar. Pmemperhatikan sejumlah kecil informasi secara serempak.
3. Long term mamory, yang secara potensial tidak terbatas kapasitas isinya sehingga mampu menampung seluruh informasi yang sudah dimiliki peserta didik. Kelemahannya adalah betapa sulit mengakses informasi yang tersimpan di dalamnya.
Diasumsikan, ketika individu belajar di dalam dirinya berlangsung proses kendali atau pemantauan bekerjanya sistem yang berupa prosedur strategi mengingat, untuk menyimpan informasi ke dalam Long term Mamory (materi mamory atau ingatan dan strategi umum pemecahan masalah (materi kreativitas).
PENUTUP
Kesimpulan
Teori kognitivisme mengacu pada wacana psikologi kognitif, dan berupaya menganalisis secara ilmiah proses mental dan struktur ingatan atau cognition dalam aktifitas belajar. Cognition diartikan sebagai aktifitas mengetahui, memperoleh, mengorganisasikan dan menggunakan pengetahuan ( Lefrancois, 1985). Tekanan utama psikologi kognitif adalah struktur kognitif yaitu perbendaharaan pengetahuan pribadi individu yang mencakup ingatan jangka panjang (long term mamory). Psikologi kognotif memandang manusia sebagai makhluk yang selalu aktif mencari dan menyeleksi informasi untuk diproses. Perhatian umum psikologi kognitif adalahn pada upaya memahami proses individu, mencari, menyeleksi, mengorganisasikan dan menyimpan informasi. Belajar kognitif berlangsung berdasarkan skemata atau struktur mental individu yang mengorganisasikan pengamatannya.
Saran
Sebagai seorang guru kita harus dapat menerapkan teori belajar Kognitivisme ini di dalam kegiatan belajar mengajar di dalam kelas agar tercipta suasa Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan (PAKEM).
Model pembelajaran IDI
PENDAHULUAN
Model pembelajaran mempunyai makna yang lebih luas dari pada strategi, metode atau prosedur pembelajaran. Istilah model pembelajaran mempunyai 4 ciri khusus yang tidak dipunyai oleh strategi atau metode pembelajaran :
1. Rasional teoritis yang logis yang disusun oleh pendidik.
2. Tujuan pembelajaran yang akan dicapai
3. Langkah-langkah mengajar yang duperlukan agar model pembelajaran dapat dilaksanakan secara optimal.
4. Lingkungan belajar yang diperlukan agar tujuan pembelajaran dapat dicapai.
Desain pembelajaran dapat dimaknai dari berbagai sudut pandang, misahwa sebagai disiplin, sebagai ilmu, sebagai sistem, dan sebagai proses. Sebagai disiplin, desain pembelajaran membahas berbagai penelitian dan teori tentang strategi serta proses pengembengan pembelajaran dan pelaksanaannya. Sebagai ilmu, desain pembelajaran merupakan ilmu untuk menciptakan spesifikasi pengembangan, pelaksanaan, penilaian, serta pengelolaan situasi yang memberikan fasilitas pelayanan pembelajaran dalam skala makro dan mikro untuk berbagai mata pelajaran pada berbagai tingkatan kompleksitas.
Sebagai sistem, desain pembelajaran merupakan pengembangan sistem pembelajaran dan sistem pelaksanaannya termasuk sarana serta prosedur untuk meningkatkan mutu belajar. Desain pembelajaran sebagai proses. merupakan pengembangan sistematis tentang spesifikasi pembelajaran dengan menggunakan teori pembelajaran dan teori belajar untuk menjamin mutu pembelajaran. Desain pembelajaran merupakan proses keseluruhan tentang kebutuhan dan tujuan belajar serta sistem penyampaiannya. Termasuk di dalamnya adalah pengembangan bahan dan kegiatan pembelajaran, uji coba dan penilaian bahan, serta pelaksanaan kegiatan pembela.jarannya. Untuk memahami lebih jauh tentang teori dan aplikasi desain pembelajaran, pada bagian ini akan dipelajari tentang: Pengertian teori dan model; Teori dasar behavioris, kognitif, dan konstruktif; Model pembelajaran; Taksonomi Bloom; Perbaikan taksonomi Bloom;Model kondisi belajar Robert Gagne; serta Model pemrosesan informasi.
Kemampuan mengajar adalah kemampuan memilih, menata, mengemas serta menyajikan bahan ajaran dalam menyampaikan pesan-pesan kependidikan melalui bidang ilmu, teknologi dan/atau kesenian tertentu, sesuai dengan tuntutan kurikulum suatu program pendidikan (Kep Mendikbud RI nomor 013/U/1998 tentang program pembentukan kemampuan mengajar)
Kompetensi pedagogik yang harus dimiliki oleh guru yaitu kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik (UU Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen). Guru sebagai agen pembelajaran (learning agent) adalah peran guru antara lain sebagai fasilitator, motivator, pemacu, perekayasa pembelajaran, dan pemberi inspirasi belajar bagi peserta didik
Pengembangan Instruksional terdiri atas :
n Upaya pemecahan masalah pengajaran
n Menggunakan pendekatan sistem
n Berdasarkan konsepsi teknologi instruksional yaitu suatu proses yang kompleks and terpadu dari komponen yang terlibat (peserta didik, pendidik, acuan, alat/sarana, organisasi) untuk mengelola usaha pemecahan masalah dalam situasi belajar yang bertujuan dan terkontrol
Model Pengembangan Instruksional terdiri atas :
n Merupakan cara sistematis dalam mengidentifikasi, mengembangkan dan mengevaluasi seperangkat materi dan strategi yang diarahkan untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu
n Berbagai model dikembangkan seperti Briggs, Kemps, IDI dll
n A process model for patient education (Tyler Model)
Pada makalah ini akan di bahas salah satu jenis model desain pembelajaran dari perkembangan instruksional yaitu : IDI atau Intruksional Development Institute.
Tujuan
Tujuan dari pembahasan ini yaitu kita mampu mengetahui model pembelajran yang ada di dunia pendidikan. Pada model IDI ini merupakan penerapan model pembelajaran yang ada di Amerika. Setelah mengetahui sistem model desain pembelajaran IDI ini kita bisa mengaplikasinya dalam sistem belajar mengajar yang nantinya akan di laksanakan.
MODEL DESAIN PEMBELAJARAN IDI
(Instruksional Development Institute)
Model IDI
Pengembangan instruksional model ID (Instruksional Development Institute) merupakan suatu hasil konsorsium antar perguruan tinggi di Amerika Serikat yang dikenal dengan Uniiversity Consorsium Instructional Development and Technology (UCIDT).
Model IDI ini telah dikembangkan dan diuji-cobakan pada beberapa negara di Asia dan Eropa dan telah berhasil di 334 institusi pendidikan di Amerika. Sebagaimana halnya dengan model-model pengembangan instruksional lainnya, model ini juga menggunakan model pendekatan sistim yang meliputi tiga tahapan, yakni;
1) Pembatasan (define)
2) Pengembangan (develop)
3) Penilaian (evaluate)
1) Tahap pembatasan (define)
Identifikasi masalah, dimulai dengan analisis kebutuhan atau yang disebut need assesment. Pada dasarnya need assisment ini berusaha menemukan suatu perbedaan (descrypancy) antara apa yang ada dan apa yang idealnya (yang diinginkan). Karena banyaknya kebutuhan pengajaran, maka perlu diadakan prioritas mana yang didahulukan dan mana yang dikemudian.
2) Tahap Pengembangan
Identifikasi tujuan; tujuan instruksional yang hendak dicapai perlu diidentifikasikan terlebih dahulu, baik tujuan instruksional umum (TIU) dalam hal ini IDI menyebutkan dengan Terminal Objectives dan tujuan instruksional khusus (TIK) yang disebut Enabling Objectives. TIK adalah penjabaran yang lebih rinci dari TIU, maka TIK dianggap penting sekali dalam pengembangan instruksional, disamping itu TIK perlu karena;
a) Membantu siswa dan guru untuk memahami secara jelas apa-apa yang diharapkan sebagai hasil kegiatan instruksional;
b) TIK merupakan building blocks dari pengajaran yang diberikan
c) TIK merupakan penanda tingkah laku yang harus diperlihatkan oleh siswa sesuai dengan kegiatan instruksional yang diberikan.
Penentuan metode;
Untuk mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan perlu ditempuh suatu cara, dalam hal ini metode apa yang cocok digunakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkn tersebut.
Bagaimanakah urutan isi/ bahan yang akan disajikan?
Bentuk instruksional apakah yang dipilih sesuai dengan karakteristik siswa dalam situasi dan kondisinya? Apakah dipakai metode ceramah, diskusi, praktikum, karyawisata, tugas individual dan lain-lainnya
3) Tahap penilaian
Tes uji coba;
Setelah prototipa program instruksional tersebut disusun, maka langkah berikutnya harus diadakan uji-coba. Uji-coba ini dapat dilakukan pada sampel audien untuk menentukan kelemahan dan kebaikan serta efesiensi dan keefektifan suatu program yang dikembangkan.
Analisis hasil
Hasil uji coba yang dilakukan perlu dianalisis terutama yang berkenaan dengan;
Apakah tujuan dapat dicapai, bila tidak atau belum semuanya, dimanakah letak kesalahannya?
Apakah metode atau teknik yang dipakai sudah cocok denganpencapaian tujuan-tujuan tersebut, mengingat karakteristik siswa yang telah diidentivikasi?
Apakah tidak ada kesalahan dalam pembuatan instrumen evaluasi?
Apakah sudah dievaluasi hal-hal yang seharusnya perlu dievaluasi?
PENUTUP
Kesimpulan
Pengembangan instruksional model ID (Instruksional Development Institute) merupakan suatu hasil konsorsium antar perguruan tinggi di Amerika Serikat yang dikenal dengan Uniiversity Consorsium Instructional Development and Technology (UCIDT).
Langkah-langkahnya :
1. Pembatasan : Ada 3 hal yang perlu dipertimbangkan : Karakteristik Siswa, Kondisi, Sumber-sumber yang relevan
2. Pengembangan : Tujuan yang hendak dicapai, TIK merupakan penjabaran yang lebih rinci dibandingkan dengan TIU. Ini karena TIK : Dapat memehami secara jelas, Building block dari pengajaran yang diberikan, sebagai penenda tingkah laku yang harus diperhatikan. Tahap pengembangan terdiri atas :
a. perumusan tujuan instruksional
b. analisis tugas dan jenjang belajar
c. strategi instruksional
d. pemilihan dan penggunaan media
e. pengembangan prototipe
3. Penilaian.
a. uji coba prototipe
b. review dan revisi
c. implementasi
d. evaluasi
Saran
Sebaiknya kita mencoba sistem model pembelajaran IDI ini karena model pembelajaran ini telah di laksanakan di beberapa negara Amerika, Eropa dan Asia dan dapat menciptakan sistem belajar mengajar dengan baik. Pelaksanaan sistem model desain pembelajaran IDI akan bermanfaat Oleh guru untuk menciptakan suasana belajar yang PAKEM yaitu Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyanangkan.
Daftar Pustaka
Mr. Zuh. 2009. Pengertian desain pembelajaran (online). http://zuhairistain.blogspot.com/2009/04/pengertian-desain-pembelajaran_16.html
Idblog. 2011, Model-Model Desain pembelajaran http://mbegedut.blogspot.com/2011/01/model-model-desain-pembelajaran.html
Kamis, 17 Februari 2011
Karakteristik Peserta Didik
Jenis – Jenis Karakteristik perkembangan peserta didik
- Karakteristik Peserta Didik Usia Taman Kanak-kanak
Anak usia prasekolah merupakan fase perkembangan individu sekitar 4-6 tahun, ketika anak mulai memiliki kesadaran tentang dirinya sebagai pria atau wanita, dapat mengatur diri dalam buang air (toilet training), dan mengenal beberapa hal yang dianggap berbahaya (mencelakakan dirinya).
- Perkembangan Fisik
Perkembangan fisik merupakan dasar bagi kemajuan perkembangan berikutnya. Dengan meningkatnya pertumbuhan tubuh maka memungkinkan anak untuk dapat lebih mengembangkan keterampilan fisiknya dan ekplorasi terhadap lingkungannya dengan tanpa bantuan dari orang tuanya.
Pertumbuhan otaknya pada usia lima tahun sudah mencapai 75% dari ukuran orang dewasa, dan 90% pada usia enam tahun. Pada usia ini juga terjadinya pertumbuhan ”myelinization” (lapisan urat syaraf dalam otak yang terdiri dari bahan penyekat berwarna putih, yaitu myelin) secara sempurna. Lapisan urat syaraf ini membantu transmisi impul-impul syaraf secara cepat, yang memungkinkan pengontrolan terhadap kegiatan-kegiatan motorik lebih seksama dan efisien. Di samping itu pada usia ini banya juga perubahan fisiologis lainnya, seperti pernapasan menjadi lebih lambat dan mendalam dan denyut jantung lebih lambat dan menetap.
Untuk perkembangan fisik anak sangat diperlukan gizi yang cukup. Kekurangan gizi (malnutrisi) dapat mengakibatkan kecatatan tubuh dan kelemahan mental. Mereka kurang memiliki kemampuan atau kesiapan mental dan fisik. Perkembangan fisik akan ditandai juga dengan berkembangnya kemampuan atau keterampilan motorik, baik yang kasar maupun yang lembut.
Bimbingan guru taman kanak-kanak itu berkaitan dengan pengembangan aspek-aspek berikut
- Pengenalan/pengetahuan akan namanya dan bagian-bagian tubuhnya.
- Kemampuan untuk mengidentifikasi fungsi-fungsi tubuh.
- Pemahaman bahwa walaupun setiap individu berbeda dalam penampilannya, seperti perbedaan dalam warna rambut, kulit dan mata, atau tingginya tetapi, semua orang memiliki kesamaan karakteristik fisik yang sama.
- Menerima bahwa semua orang memiliki keterbatasan dalam kemampuannya.
- Kemampuan untuk memahami bahwa tubuh itu berubah secara konstan, dan pertumbuhan fisik berawal dengan kelahiran dan berakhir dengan kematian.
- Pemahaman akan pentingnya tidur dan juga sebagai dua siklus kehidupan yang penting bagi kehidupan.
- Mengetahui kesadaran sensori (merasa, melihat, mendengar, mencium, dan menyentuh/meraba).
- Memahami keterbatasan fisik seperti lelah, sakit dan melemah.
2. Perkembangan Intelektual
Menurut Piaget, perkembangan kognitif pada usia ini berada pada periode Preoperasional, yaitu tahapan dimana anak belum mampu menguasai operasi mental secara logis. Yang dimaksud dengan operasi adalah kegiatan-kegiatan yang diselesaikan secara mental bukan fisik. Periode ini ditandai dengan berkembangnya representasional atau “Symbolic function” yaitu kemampuan menggunakan sesuatu untuk mewakili sesuatu yang lain dengan menggunakan simbol. Dapat juga dikatakan sebagai “semiotic function”, kemampuan untuk menggunakan simbol-simbol untuk melambangkan suatu kegiatan, benda yang nyata atau peristiwa.
1. Karakteristik Peserta Didik Usia Sekolah Dasar
- Perkembangan Intelektual
Pada usia dasar (6-12 tahun) anak sudah dapat mereaksi rangsangan intelektual atau melaksanakan tugas-tugas belajar yang menuntut kemampuan intelektual atau kemampuan kognitif (seperti membaca, menulis, dan menghitung).
Dalam rangka mengembangkan kemampuan anak,maka sekolah dalamhal ini guru seyogyanya memberikan kesempatan kepada anak untuk mengemukakan pertanyaan, memberikan komentar atau pendapat tentang materi pelajaran yang dibacanya atau dijelaskan oleh guru, membuat karangan, menyusun laporan.
2. Perkembangan Bahasa
Bahasa adalah sarana berkomunikasi dengan orang lain. Dalam pengertian ini tercakup semua cara berkomunikasi, dimana pikirandan perasaan dinyatakan dalam bentuk tulisan, lisan, isyarat, atau gerak dengan menggunakan kata-kata,kalimat, bunyi, lambang, gambar, atau lukisan. Dengan bahasa semua manusia dapat mengenal dirinya, sesama manusia, alam sekitar, ilmu pengetahuan dan nilai-nilai moral atau agama.
Terdapat dua faktor penting yang mempengaruhi perkembangan bahasa yaitu :
- Proses jadi matang dengan perkataan lain anak itu menjadi matang (organ-organ suara/bicara sudah berfungsi) untuk berkata-kata.
- Proses belajar, yang berarti bahwa anak yang telah matang untuk berbicara lalu mempelajari bahasa orang lain dengan jalan mengimitasi atau meniru ucapan/kata-kata yang didengarnya. Kedua proses ini berlangsung sejak masa bayi dan kanak-kanak
Karakteristik Remaja
- Perkembangan fisik
Masa remaja merupakan salah satu diantara dua masa rentangan kehidupan individu, dimana terjadi pertumbuhan fisik yang sangat pesat. Masa pertama yang terjadi pada fase pranatal dan bayi. Bagian-bagian tubuh tertentu pada tahun-tahun permulaan kehidupan secara proporsional terlalu kecil, namun pada masa remaja proporsionalnya menjadi terlalu besar, karena terlebih dahulu mengalami kematangan daripada bagian-bagian yang lain. Pada masa remaja akhir, proporsi tubuh individu mencapai proporsi tubuh orang dewasa dalam semua bagiannya. Dalam perkembangan seksualitas remaja ditandai dengan dua ciri yaitu ciri-ciri seks primer dan ciri-ciri seks sekunder.
2. Perkembangan kognitif (Intelektual)
Ditinjau dari perkembanga kognitif menurut Piaget, masa remaja sudah mencapai tahap operasi formal (operasi = kegiatan-kegiatan mental tentang berbagai gagasan). Keating merumuskan lima pokok yang berkaitan dengan perkembangan berpikir operasi formal, yaitu sebagai berikut :
- Berlainan dengan cara berpikir anak-anak yang tekanannya kepada kesadarannya sendiri disini dan sekarang, cara berpikir remaja berkaitan erat dengan dunia kemungkinan. Remaja mampu menggunakan abstraksi dan dapat membedakan yang nyata dan konkret dengan abstrak dan mungkin.
- Melalui kemampuannya untuk menguji hipotesis, muncul kemampuan nalar secara ilmiah.
- Remaja dapat memikirkan tentang masa depan dengan membuat perencanaan dan mengekplorasi berbagai kemungkinan untuk mencapainya.
- Remaja menyadari tentang aktivitas kognitif dan mekanisme yang membuat proses kognitif itu efisien dan tidak efisien. Dengan demikian, introspeksi (pengujian diri) menjadi bagian kehidupannya sehari-hari.
- Berpikir operasi formal memungkinkan terbukanya topik-topik baru dan ekspansi berpikir.
Implikasi pendidikan atau bimbingan dari periode berpikir operasi formal ini adalah perlunya disiapkan program pendidikan atau bimbingan yang memfasilitasi perkembanga kemampuan berpikir remaja. Upaya yang dapat dilakukan seperti :
- Penggunaan metode mengajar yang mendorong anak untuk aktif bertanya, mengemukakan gagasan atau mengujicobakan suatu materi
- Melakukan dialog, diskusi dengan siswa tentang masalah-masalah sosial atau berbagai aspek kehidupan seperti agama, etika pergaulan dan pacaran, politik, lingkungan hidup, bahayanya minuman keras dan obat-obatan terlarang.
3. PePPerkembangan Emosi
Masa remaja merupakan puncak emosionalitas, yaitu perkembangan emosi yang tinggi. Pertumbuhan fisik, terutama ogran seksual mempengaruhi perkembangan emosi dan dorongan baru yang dialami sebelumnya seperti perasaan cinta. Pada usia remaja awal, perkembanga emosinya menunjukkan sifat yang sensitif dan reaktif yang sangat kuat terhadap berbagai peristiwa, emosinya bersifat negatif dan tempramental. Sedangkan remaja akhir sudah mampu mengendalikan emosinya. Mencapai kematang emosional merupakan tugas perkembangan yang sangat sulit bagi remaja. Proses pencapaiannya sangat dipengaruhi oleh kondisi sosio-emosional lingkungannya, terutama lingkungan keluarga dan kelompok teman sebaya.
1. Karakteristik Peserta Didik Usia Taman Dewasa
Secara psikologis kedewasaan diwarnai dengan aktualisasi diri yaitu menunjukkan semua kemampua yang dimiliki dalam rangka mandiri, bisa mencari nafkah sendiri, dapat menentukan kehidupan sendiri, ingin merdeka.
Pada sebagian besar kebudayaan kuno, status ini tercapai apabila pertumbuhan pubertas telah selesai atau setidak-tidaknya sudah mendekati selesai dan apabila organ kelamin anak telah mencapai kematangan serta mampu bereproduksi.
Pada umumnya psikolog menetapkan seseorang dikatakn telah dewasa sekitar usia 20 tahun sebagai awal masa dewasa dan berlangsung sampai sekitar usia 40-45 dan pertengahan masa dewasa berlangsung dari sekitar 40-45 sampai sekitar 65 tahun, serta masa dewasa lanjut atau masa tua berlangsung dari sekitar 65 tahun sampai meninggal.