Kamis, 10 Maret 2011

SISTEM INDRA

SISTEM INDRA

Kita dapat menikmati Keindahan bunga-bunga yang sedang mekar alunan suara musik yang merdu, kesejukkan udara di pegunungan, kekhasan bau bunga melati dam lezatnya makanan karena berkat adanya organ-organ pengindera yang ada di tubuh kita. Indra merupakan bagian tubuh yang peka terhadap rangsangan tertentu. Organ-organ pengindera bersama-sama dengan susunan syaraf memungkinkan kita mengenal dunia luar. Organ penginderaan terbagi menjadi lima sehingga sering disebut panca indera yang terdiri atas : Indra penglihatan, indra pendengaran, indra pencium, indra pengecap, dan indra peraba.

Organ Pengindra

Indra menurut letaknya terbagi dua yaitu indra luar (eksternal) dan Indra dalam (internal). Indra luar (eksternal) yang berupa indra penglihat, pendengar, perasa, pengecap dan pencium, indra luar tersebut kita gunakan untuk memperoleh informasi dari luar, sedangkan indra dalam (internal) bertugas menyampaikan informasi yang berasal dari dalam tubuh, misalnya rasa pegal, lapar, haus, atau sakit. Semua informasi yang diperoleh dianalisis dalam otak untuk menghasilkan tanggapan (respon).

Otak berfungsi sebagai komputer pusat tubuh kita. Semua informasi yang diterima dalam bentuk impuls syaraf diterjemah sehingga kita sadar dan tergerak untuk memberi tanggapan. Contohnya saat bel berbunyi sinyal yang ditangkap telinga dihantarkan ke otak. Di dalam telinga suara itu diinterprestasikan dan sinyal saraf di kirimkan ke otak sehingga kita bangkit dan membuka pintu. Kita secara sadar menanggapi rangsangan yag terjadi yaitu bel pintu. Namun terkadang kita juga memberikan tanggapan berupa gerak refleks. Gerakan ini tidak di koordinasi oleh otak , tetapi oleh syaraf tulang belakang (spiral cord).

Organ pengindera kita memiliki bagian yang dapat menerima rangsangan berupa ujung-ujung syaraf atau sel-sel reseptor. Satu jenis respon hanya bisa menanggapi satu jenis rangsangan. Rangsangan yang diterimahnya terlebih dahulu diubah diubah menjadi impuls saraf, kemudian oleh serabut-serabut syaraf sensorik diteruskan ke pusat susunan syaraf (otak dan sumsum tulang belakang). Dipusat susunan syaraf kemudian diolah dan diartikan sehingga kita mengetahui apa yang terjadi di sekitar kita.

Indra luar (eksternal) yang dimiliki tubuh kita

No.

Indra

Organ

Sel-sel reseptor

Rangsang

1

Penglihat

Mata

Sel kerucut (cone) dan sel batang (rod)

Cahaya

2

Pendengar

Telinga

Organ korti

Gelombang bunyi

3

Pengecap

Lidah

Puting pengecap

Kontak kimia

4

Pencium

Hidung

Sel-sel pembaur/pencium (alfactory)

Kontak kimia

5

Peraba

Kulit

Korpuskel taktil

Kontak fisisk

Setiap pusat indra terletak di pusat yang berbeda. Otak memproses gelombang informasi yang dibawa oleh syaraf tubuh secara terus-menerus. Indra kita akan berfungsi dengan baik, apabila organ pengindera pada bagian penerima penerima rangsangan dalam keadaan baik, serabut-serabut syaraf sensorik yang membawa rangsangan ke pusat syaraf berfungsi baik, dan tidak ada kelainan pada pusat susunan syaraf. Jika salah satu saja dari bagian-bagian di atas rusak maka hubungan kita dengan dunia luar akan terganggu juga.

Untuk memahami rangsangan cara kerja pengindera, kita perlu mempelajari struktur dan fungsi tiap-tiap organ pengindera.

1. Indra penglihatan

Indra yang terpenting adalah penglihatan. Bagian otak yang berhubungan dengan indra ini jauh lebih besar daripada hubungan dengan indra yang lain. Mata merupakan organ menglihatan bagi kita. Bola mata terletak di dalam rongga mata dan di lindungi oleh tulang-tulang tengkorak. Bagian depan bola mata dilindungi oleh selaput tipis, kelopak mata, bulu mata, dan kelenjar air mata.

Ketika mata kita terbuka, bulu mata akan melindungi kita dari debu. Kelenjar air mata terletak di sebelah dalam dari kelopka mata atas. Kelenjar ini terus menghasilkan air mata yang berfungsi membasahi dan membersikan permukaan mata. Air mata juga mengandung zat yang dapat membunuh bakteri-bakteri yang masuk.

Kedip mata yang tidak sadar kita lakukan merupakan usaha untuk mengeluarkan air mata. Apabila ada benda yang masuk de dalam mata, kelopak mata akan berkedip-kedip dengan cepat sehingga air mata yang dihasilkan akan lebih banyak. Dengan demikian, benda asing dapat dikeluarkan dan mata bersih kembali.

Bola mata diletakkan pada dinding seblah dalam rongga mata oleh 3 pasang otot yang juga berfungsi menggerakkan bola mata ke arah yang kita kehendaki, untuk mendapatkan pandangan yang sebaik-baiknya. Otot tersebut melekat pada tulang tengkorak.

a. Bagian-bagian bola mata

Mata kita meyerupai kamera yang sering kita gunakan dalam memotret objek tertentu. Mata maupun kamera keduanya mempunyai lensa yang dapat diatur untuk membentuk bayangan pada suatu permukaan atau layar. Pada kamera, bagian yang berfungsi untuk menangkap bayangan adalah film sedangkan pada mata penangkap bayangan adalah selaput jala atau retina.

Untuk lebih jelasnya, bagian-bagian mata dapat kita rincikan sebagai berikut :

1. Kornea merupakan bagian dari mata yang bersifat tembus pandang.

2. Selaput pelangi atau iris yang terletak dibelakang kornea dan berpigmen. Zat pemberi warna (pigmen) pada iris ini disebut melanin. Pigmen inilah yang menentukan warna mata. Di tengah selaput pelangi terdapat lubang yang disebut pupil. Pupil dapat membesar dan mengecil karena kerja otot pada selaput pelangi. Apabila cahaya redup, otot-otot pada iris akan berkontraksi dan menyebabkan lubang pupil membesar sehingga cahaya yang masuk lebih banyak. Sebaliknya apabila cahaya berfungsi sebagai pupil adalah diafragma.

3. Lensa, terletak di belakang selaput pelangi. Lensa dapa mencembung dan memipih sesuai dengan jarak benda yang akan difokuskan.

4. Retina, berupa selaput yang mengandung sel-sel indra. Ada dua macam sel indra yaitu sel batang (rod) dan sel kerucut (cone). Jumlah sel batang lebih banyak dari sel kerucut. Sel batang sangat peka terhadap cahaya sehingga memungkinkan kita melihat dalam keremangan, tetapi tidak bisa membedakan warna. Sel kerucut sangat peka terhadap warna dan detail. Sel kerucut tidak berfungsi dalam cahaya remang-remang sehingga segala sesuatu tapak hitam atau abu-abu pada waktu petang. Pada retina terdpat bintik kuning dan bintik buta.

a) Bintik kuning adalah tempat yang sangat peka terhadap rangsang cahaya. Supaya kita dapat melihat suatu benda dengan jelas, bayangan benda itu harus jatuh tepat pada bintik jantung.

b) Bintik buta adalah tempat pada retina yang sama sekali tidak peka terhadap rangsang cahaya, dan merupakan tempat keluarnya serabut-serabut saraf mata.

b. Mekanisme kerja mata

Suatu benda hanya dapat kita lihat jika ada cahaya. Cahaya akan dipantulkan oleh benda itu dan pantulan cahaya masuk ke dalam mata melalui lensa mata. Sesampainya di retina, rangsang cahaya di terima oleh sel-sel indra, cahaya kemudian diteruskan ke syaraf mata, selanjtnya di kirim ke pusat penglihatan di otak untuk diterjemahkan. Barulah kita melihat benda itu.

Lensa mata tidak seperti lensa kamera. Untuk memasukkan bayangab agar tetap jatuh pada bintik kuning otot-otot yang memegang lensa mata (otot sinar) berkontraksi mengubah bentuk lensa.

Untuk memasukkan bayangan dari benda yang letaknya jauh (lebih dari 10 meter), otot-otot siliasi mengendur (relaksasi), akibat adanya tekanan cairan bola mata, badan sehari memendek. Hal ini menyebabkan serabut pemegang lensa memegang sehingga lensa memipih. Dengan demikian, daya pemusat lensa menurun sehingga bayangan benda jatuh tepat pada retina.

Untuk memusatkan bayangan dari benda yang letaknya dekat, otot-otot sihari memegang (berkontraksi) melawan tekanan cairan bola mata. Keadaan ini menyebabkan serabut pemengang lensa mengendur sehingga bayangan dari benda jatuh tepat pada retina. Kemampuan mata untuk mengatur agar bayangan jatuh tepat pada bintik kuning disebut akomodasi.

c. Beberapa gangguan pada indera penglihatan

Orang yang matanya normal dapat melihat benda jauh maupun dengan jelas. Mata dengan penglihatan normal disebut emmetrop. Akan tetapi, ada beberapa orang yang tidak dapat melihat benda jauh dengan jelas karena karena bola matanya terlalu panjang sehingga bayangan benda jatuh di sepan bintik kuning. Gangguan penglihatan ini disebut rabun jauh (miop). Mata dengan gejala ini dapat ditolong dengan kacamata minus (berlensa cekung) sehingga bayangan kembali jatuh di bintik kuning.

Mata yang tidak dapat melihat benda dekat disebut rabun dekat (hipermetrop). Hal ini terjadi karena bola mata terlalu pendek sehingga bayangan jatuh di belakang bintik kuning. Untuk memperbaiki keadaan ini dapat dipotong dengan memakai kacamata plus (berlensa cembung).

Mata yang tidak dapat membedakan garis-garis tegak lurus dan mendatar pada saat bersamaan disebut astimagtisme. Orang yang menderita astimagtisme, kelengkungan matanya tidak dapat bewrpusat sempurna. Cacat mata ini dapat ditolong dengan menggunakan kacamata yang bentiknya silindris.

Pada orang tua, biasanya daya akomodasi mata telah berkurang. Lensa mata lebih pipih dan sukar mencembung sehingga mata tidak jelas melihat benda terlalu jauh atau terlalu dekat. Keadaan ini disebut presbiop. Untuk menolongnya diberi kacamata berlensa cembung di bawah dan lensa cekung di atas.

Kekurangan vitamin A dapat menyebabkan penglihatan menjadi kabur pada saat senja. Peristiwa ini disebut rabun senja. Jika kekurangan vitamin A dibiarkan berlarut-larut dapat menyebabkan kebutaan (kornea rusak). Kerusakan ini dapat ditolong dengan pencangkokan kornea.

Buta warna adalah suatu kelainan penglihatan di mana penderita tidak dapat melihat warna tertentu. Buta warna merupakan penyakit keturunan dan sukar untuk disembuhkan.

Bola mata dapat digerakkan ke kiri, ke kanan, dan berputar oleh ketiga pasang otot penggerak bola mata. Apabila otot-otot penggerak bola mata kanan dan kiri tidak serasi, menyebabkan mata juling. Kelainan ini dapat diperbaiki suatu operasi.

2. Indra Pendengaran

Bunyi bergetar dan bergerak di udara dalam bentuk gelombang. Indra pendengaran (telinga) kita begitu peka sehingga dapat mengiterprestasikan getaran menjadi berbagai bunyi.

Sebagian besar organ telinga terletak di dalam tenggorokan. Telinga dibagi menjadi tiga bagian, yaitu telinga luar, telinga tengah, dan telinga dalam.

a. Telinga Luar

Telinga luar terdiri dari daun telinga, kelenjar telinga kelenjar minyak dan selaput disebut gendang telinga. Daun telinga yang terbuat dari tulang rawan berfungsi untuk menangkap getaran. Getaran yang dihantarkan melalui lubang pendengaran akan menggetarkan gendang telinga.

Lubang pendengaran dilapisi kulit berambut halus dan kelenjar keringat yang memprosuksi minyak serugem. Fungsinya untuk menangkap partikel debu dan menghalangi masuknya air.

b. Telinga tengah

Telinga bagian tengah berupa suatu rongga yang berisi udara. Dalam rongga ini terdapat tiga buah tulang pendengaran yang sangat halus dan letaknya bersambung yang disebut osikel. Ketiga tulang terkecil dalam tubuh kita tersebut diberi nama tulang martil, tulang landasan dan tulang sanggurdi. Tulang martil menempel pada gendang telinga. Tugas tulang tersebut menangkap getaran dari gendang telinga dan meneruskannya ke membran yang menyelubungi tingkat oval untuk diteruskan lagi ke telinga dalam.

Rongga telinga bagian tengah dihubungkan dengan rongga mulut bagian belakang oleh suatu saluran yang disebut pembuluh eustachius. Saluran ini baru terbuka pada saat kita mengunyah, menelan, menguap, bersin atau mebuka mulut. Fungsinya untuk memasukkan udara ke telinga sama dengan tekanan udara di luar.

c. Telinga dalam

Telinga dalam berawal dari tingkap oval dan terowongan yang disebut labirin. Tingkap oval terbuat dari serangkaian bilik berisi cairan limfe. Bagian utama labirin adalah saluran yang berhubungan dengan organ keseimbangan dan koklea.

Koklea merupakan bagian dari yang paling dalam. Tabung spiral yang berisi cairan ini sepintas tampak seperti cangkang siput sehingga sering disebut rumah siput. Koklea dilapisia membran yang terdiri dari ribuan sel reseptor berambut. Sel rambut terletak tepat di dalam koklea dan di gerakkan oleh gerakan cairan. Sel ini mengubah getaran di dalam cairan menjadi impuls dan mengirimnya melalui syaraf pendengaran ke otak untuk meninterprestasikan menjadi bunyi yang kita dengar.

d. Mekanisme kerja telinga

Sumber bunyi menghasilkan gelombang di udara dan ditangkap oleh daun telinga. Bentuk daun telinga yang khas memungkinkan gelombang suara langsung masuk ke lubang pendengaran.

Gelombang suara yang masuk melalui lubang pendengaran menggetarkan gendang telinga, kemudian dipantulkan dan diperkuat oleh serangkaian osikel. Gerakan landasan melawan tingkep oval menyebabkannya bergetar. Getarannya dipancarkan melalui cairan telinga dalam bentuk mengerakkan sel-sel reseptor organ korti. Sel reseptor yang berhubungan dengan sel saraf, mengubah gerakan menjadi impuls dan dibawa ke otak oleh syaraf pendengaran.

Sel reseptor yang berbeda-beda pada bagian koklea, peka terhadap frekuensi bunyi dan tinggi nada yang berbeda pula, otak menginterprestasikan sinyal pada bagian yang berbeda itu sebagai bunyi yang berbeda pula. Keras lemahnya bunyi bergantung pada banyaknya sel penerima yang mengirim impuls ke otak. Semakin kuat gelombang bunyi semakin banyak sel reseptor yang bergerak.

Kita bisa mengetahui asal bunyi dengan dua buah telinga kita. Perbedaan waktu yang relatif kecil dari suatu bunyi untuk mencapai telinga dianalisis oleh otak sehingga kita bisa mengetahui arah sumbernya.

e. Gangguan pendengaran

Kerusakan pada gendang telinga dapat menyebabkan gangguan pada pendengaran. Kerusakan dapat disebabkan oleh tekanan udara yang tiba-tiba meningkat atau akibat penyakit rahang telinga bagian tengah, biasanya penyakit ini banyak di derita oleh anak-anak. Di Jawa barat penyakit ini sering disebut kopok.

Pada usia lanjut pendengaran akan berkurang, hal ini terjadi karena hubungan antartulang pendengaran mulai kaku. Gangguan ini dapat diatasi dengan memakai alat bantu dengar.

f. Indra keseimbangan

Indra keseimbangan sangat penting untuk membantu kita berdiri tegak atau berputar. Mekanisme indra keseimbangan terletak di telinga dalam, terdiri dari saluran geluang, ultrikulus, dan sakulus.

Saluran gelung terdiri dari tiga saluran berbentuk setengah lingkaran, masing-masing terletak tegak lurus satu sama lain dan menempel pada bagian labirin.

Ujung setiap saluran melebar menuju ampula, bergabung dengan altrikulus dan sakulus. Seperti koklea, saluran dan bilik ini berisi cairan yang mengandung sel reseptor dan menyerupai rambut dan yang berhubungan dengan serat saraf. Rambut yang mengarah ke bahan yang berbentuk jeli. Gerakan kepala menyebabkan cairan di dalam saluran gelung bergerak dan merangsang sel reseptor di saluran yang berbeda. Jika cairan bergerak ke satu arah dalam suatu saluran. Cairan itu akan bergerak ke arah yang berlawanan di dalam saluran lain. Hal ini merangsang lebih banyak reseptor di cairan di saluran yang satu ke saluran yang lain. Impuls dari sel reseptor di kirim ke otak melalui saraf pendengaran. Dengan membandingkan impuls yang berbeda dari enam saluran otak dapat memperkirakan arah dari setiap gerakan.

3. Indra penciumanp

Kita dapat menikmati aroma harum bunga atau parfurm dan kita juga dapat mencium bau bangkai, hal ini terjadi berkat indra pencium yang terdapat dalam rongga hidung. Ketika mencium bau, kita mengindra partikel-partikel yang ada di udara.

Hidung dipisahkan oleh dinding tulang rawan menjadi dua tulang hidung. Kedua lubang itu berakhir di dua tulang yang disebut turbinate.

Udara masuk melalui rongga hidung mengalir melalui lapisan tulang ke sel reseptor di belakang lubang menuju ke pembulu penciuman, lalu di alirkan menuju saluran pernapasan ke bagian belakang tenggorokan, lalu turun ke pipa udara sampai ke paru-paru. Lubang hidung dan saluran nafas dilapisi oleh membran mukus yang dihubungi rambut halus yang disebut silia. Mukus dan silia menyaring debu, kuman, dan cairan lalu membuangnya ke saluran pencernaan melalui bagian belakang tenggorokan. Dengan demikian, kotoran tidak terhisap oleh paru-paru.

Sel-sel pencium menerima rangsang zat kimia dalam udara yang dihirup ketika bernapas. Sel-sel penerima bergabung di dalaam pembuluh pencium dan membawa sinyal ke pusat pencium yang ada di otak

Udara yang masuk ke paru-paru terlebih dahulu di hangatkan dan di lembabkan oleh turbinate dan membran mukus. Sel-sel reseptor yang disebut sel pencium terletak di rongga hidung bagian atas. Fungsinya untuk mendeteksi kandungan kimia udara yang terhirup. Sel reseptor ini membawa impuls saraf ke pembulu pencium yang terletak di belakang rongga hidung. Sinyal diteruskan ke otak di artikan sehingga kita bisa mencium bermacam-macam bau. Manusia bisa membedakan lebih dari 3000 jenis zat kimia melalui baunya. Akan tetapi, bila dibandingkan dengan indra pencium beberapa mamalia, kita masih kala peka. Beberapa binatang mamalia bisa membedakan bau yang tidak bisa tercium oleh manusia.

4. Indra pengecap

Pada saat kita mengecap makanan, cita rasa yang timbul merupaka campuran antara rasa dan bau. Sel penerima rasa terletak di lidah. Ketika kita mengunyah makanan, sel-sel penerima pada lidah dan hidung menyampaikan informasi ke otak.

Pembentuk lidah yang utama adalah jaringan otot yang diselubung oleh membran mukus. Lidah terasa licin di dalam mulut. Namun, apabila kita memperhatikan dengan cermat, permukaan tampak bercelah dan banyak tonjolan kecil yang disebut papila/ papila dan celah tersebut memiliki pucuk pengecap dengan sekumpulan sel peka di dalam rongga mukusnya.

Impuls saraf dari sel sensorik pucuk pengecap dihubungkan ke otak oleh syaraf. Syaraf yang satu membawa informasi rasa dari bagian depan lidah, dan syaraf yang lain dari samping lidah dan belakang lidah. Impuls dibawah ke pusat rasa yang ada di otak dan diartikan menjadi rasa yang kita kecap.

Pucuk pengecap dapat membedakan empat rasa pokok, yaitu asam, pahit, manis dan asin, satu jenis penerima hanya dapat merasakan satu jenis rasa, masing-masing terletak di bagian lidah yang berbeda.

Makanan harus dibasahi ludah agar bisa dikecap. Jika lidah kering maka makanan tidak terasa. Citra rasa makanan yang lezat selalu didahului oleh baunya. Apabila hidung kita tertutup pada waktu makan, makanan yang kita majan akan kehilangan hampir seluruh cita rasanya, dan kita hanya bisa mengecap empat rasa pokok saja.

5. Indra Peraba

Kita dapat membedakan perabaan kasar dan hakus, membedakan panas dan dingin atau membedakan rasa sakit dan tidak karena adanya indra peraba dan perasa.

Organ peraba dan perasa kita adalah kulit. Kulit terdiri atas tiga lapisan, epidermis, dermis, dan hipodermis. Epidermis atau lapisan luar merupakan lapisan pelindung. Lapisan yang paling tebal biasanya terdapat pada bagian telapak kaki dan telapak tangan. Hipodermis adalah lapisan terdalam yang kaya akan jaringan lemak untuk menghangatkan tubuh. Di antara kedua lapisan ini terdapat dermis. Lapisan tengah ini mengandung kelenjar keringat, kelenjar minyak, pembuluh darah, syaraf dan sel penerima khusus yang berkaitan dengan indra peraba dan perasa.

Syaraf penerima di dalam kulit tanggap terhadap sentuhan halus, tekanan, suhu, dan rasa sakit. Ada dua jenis sel penerima utama, yaitu korpuskel taktil (meliputi korpus maissner, korpus pacini, korpus raffini, korpus krouse) dan ujung syaraf tanpa selaput.

Korpus maissner yang terletak di dekat permukaan kulit menanggapi sentuhan. Ujung jari mengandung lebih dari seribu jenis reseptor ini, sedangkan punggung tangan hanya sedikit. Orang buta dapat mmbaca huruf braille hanya dengan menggunakan ujung jarinya dengan meraba guruf-huruf tersebt. Kesan dari huruf-huruf yang dirabanya diteruskan oleh syaraf peraba menuju otak untuk diartikan. Korpus maiisner ada yang ebrhubungan dnefgan pangkal rambut maka apabila suatu benda menyentuh rambut, sel saraf maissner akan terangsang.

Korpus pacini yang terletak hampir ke lapisan hipodermis, menanggapi rangsangan tekanan. Korpus ruffini tanggap terhadap panas dan korpus krause tanggap terhadap dingin.

Ujung syaraf tanpa selaput selain terdapat di dalam kulit juga terdapat di dalam organ internal. Syaraf ini peka terhadap rasa kita. Syaraf perasa sakit walaupun menimbulkan perasaan yang tidak menyenangkan, namun sangat penting untuk keselamatan kita. Jika ada sesuatu yang tidak beres dengan tubuh kita, syaraf ini memperingankan tubuh kita. Jika bahaya begitu besar, tubuh akan bereaksi, bahkan jauh sebelum otak mrnyadarinya. Gerak refleks seperti melopat menjauhi bara api membuat kita terhindar dari bahaya terbakar.

Daftar Pustaka

Sumardi, Yosaphat. 2008. Konsep dasar IPA di SD. Jakarta : Universitas terbuka