Jumat, 10 Desember 2010

Penggunaan tanda baca

1.

Angka dipakai untuk menyatakan lambang bilangan atau nomor. Di dalam tulisan lazim digunakan angka Arab atau angka Romawi.

Angka Arab

:

٠,١,٢,٣,٤,٥,٦,٧,٨,٩

Angka Romawi

:

I, II, III, IV, V, VI, VII, VIII, IX, X, L (50), C (100), D (500), M (1.000)

Pemakaiannya diatur lebih lanjut dalam pasal-pasal yang berikut ini.

2.

Angka digunakan untuk menyatakan:

(i) ukuran panjang, berat, luas, dan isi (ii) satuan waktu (iii) nilai uang, dan (iv) kuantitas

Misalnya:

0,5 sentimeter

5 kilogram

4 meter persegi

10 liter

1 jam 20 menit

pukul 15.00

tahun 1928

17 Agustus 1945

Rp5.000,00

US$3.50*

$5.10*

¥100

2.000 rupiah

50 dolar Amerika

10 paun Inggris

100 yen

10 persen

27 orang

* tanda titik di sini merupakan tanda desimal.

3.

Angka lazim dipakai untuk melambangkan nomor jalan, rumah, apartemen, atau kamar pada alamat.

Misalnya:

· Jalan Tanah Abang I No. 15

· Hotel Indonesia, Kamar 169

4.

Angka digunakan juga untuk menomori bagian karangan dan ayat kitab suci.

Misalnya:

· Bab X, Pasal 5, halaman 252

· Surah Yasin: 9

5.

Penulisan lambang bilangan yang dengan huruf dilakukan sebagai berikut:

a.

Bilangan utuh

Misalnya:

dua belas
dua puluh dua
dua ratus dua puluh dua

12
22
222

b.

Bilangan pecahan

Misalnya:

setengah
tiga perempat
seperenam belas
tiga dua pertiga
seperseratus
satu persen
satu dua persepuluh

1/2
3/4
1/16
3 2/3
1/100
1%
1,2

6.

Penulisan lambang bilangan tingkat dapat dilakukan dengan cara yang berikut.

Misalnya:

  • Paku Buwono X
  • pada awal abad XX
  • dalam kehidupan pada abad ke-20 ini
  • lihat Bab II, Pasal 5
  • dalam bab ke-2 buku itu
  • di daerah tingkat II itu
  • di tingkat kedua gedung itu
  • di tingkat ke-2 itu
  • kantornya di tingkat II itu

7.

Penulisan lambang bilangan yang mendapat akhiran -an mengikuti

Misalnya:

tahun '50-an
uang 5000-an
lima uang 1000-an

(tahun lima puluhan)
(uang lima ribuan)
(lima uang seribuan)

8.

Lambang bilangan yang dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata ditulis dengan huruf kecuali jika beberapa lambang bilangan dipakai secara berurutan, sperti dalam perincian dan pemaparan.

Misalnya:

Amir menonton drama itu sampai tiga kali.

Ayah memesan tiga ratus ekor ayam.

Di antara 72 anggota yang hadir, 52 orang setuju, 15 orang tidak setuju, dan 5 orang memberikan suara blangko.

Kendaraan yang ditempah untuk pengangkutan umum terdiri atas 50 bus, 100 helicak, 100 bemo.

9.

Lambang bilangan pada awal kalimat ditulis dengan huruf. Jika perlu, susunan kalimat diubah sehingga bilangan yang tidak dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata tidak terdapat pada awal kalimat.

Misalnya:

Lima belas orang tewas dalam kecelakaan itu.

Pak Darmo mengundang 250 orang tamu.

Bukan:

15 orang tewas dalam kecelakaan itu.

Dua ratus lima puluh orang tamu diundang Pak Darmo.

10.

Angka yang menunjukkan bilangan utuh yang besar dapat dieja sebagian supaya lebih mudah dibaca.

Misalnya:

Perusahaan itu baru saja mendapat pinjaman 250 juta rupiah.

Penduduk Indonesia berjumlah lebih dari 120 juta orang.

11.

Bilangan tidak perlu ditulis dengan angka dan huruf sekaligus dalam teks kecuali di dalam dokumen resmi seperti akta dan kuitansi.

Misalnya:

Kantor kami mempunya dua puluh orang pegawai.

DI lemari itu tersimpan 805 buku dan majalah.

Bukan:

Kantor kamu mempunyai 20 (dua puluh) orang pegawai.

Di lemari itu tersimpan 805 (delapan ratus lima) buku dan majalah.

12.

Jika bilangan dilambangkan dengan angka dan huruf, penulisannya harus tepat.

Misalnya:

Saya lampirkan tanda terima uang sebesar Rp999,75 (sembilan ratus sembilan puluh sembilan dan tujuh puluh lima perseratus rupiah).

Saya lampirkan tanda terima uang sebesar 999,75 (sembilan ratus sembilan puluh sembilan dan tujuh puluh lima perseratus) rupiah.

IV. Penulisan Huruf Serapan

Dalam perkembangannya, bahasa Indonesia menyerap unsur dari pelbagai bahasa lain, baik dari bahasa daerah maupun dari bahasa asing seperti Sanskerta, Arab, Portugis, Belanda, atau Inggris.

Berdasarkan taraf integrasinya, unsur pinjaman dalam bahasa Indonesia dapat dibagi atas dua golongan besar.

  1. Pertama, unsur pinjaman yang belum sepenuhnya terserap ke dalam bahasa Indonesia, seperti: reshuffle, shuttle cock, I'exploitation de l'homme par I'homme. Unsur-unsur ini dipakai dalam konteks bahasa Indonesia, tetapi pengucapannya masih mengikuti cara asing.
  2. Kedua, unsur pinjaman yang pengucapan dan penulisannya disesuaikan dengan kaidah bahasa Indonesia. Dalam hal ini diusahakan agar ejaannya hanya diubah seperlunya sehingga bentuk Indonesianya masih dapat dibandingkan dengan bentuk asalnya.

Kaidah ejaan

Kaidah ejaan yang berlaku bagi unsur serapan itu sebagai berikut.

aa (Belanda) menjadi a

paal
baal
octaaf

pal
bal
oktaf

ae tetap ae jika tidak bervariasi dengan e

aerobe
aerodinamics

aerob
aerodinamika

ae, jika bervariasi dengan e, menjadi e

haemoglobin
haematite

hemoglobin
hematit

ai tetap ai

trailer
caisson

trailer
kaison

au tetap au

audiogram
autotroph
tautomer
hydraulic
caustic

audiogram
autotrof
tautomer
hidraulik
kaustik

c di muka a, u, o, dan konsonan menjadi k

calomel
construction
cubic
coup
classification
crystal

kalomel
konstruksi
kubik
kup
klasifikasi
kristal

c di muka e, i, oe, dan y menjadi s

central
cent
cybernetics
circulation
cylinder
coelom

sentral
sen
sibernetika
sirkulasi
silinder
selom

cc di muka o, u, dan konsonan menjadi k

accomodation
acculturation
acclimatization
accumulation
acclamation

akomodasi
akulturasi
aklimatisasi
akumulasi
aklamasi

cc di muka e dan i menjadi ks

accent
accessory
vaccine

aksen
aksesori
vaksin

cch dan ch di muka a, o, dan konsonan menjadi k

saccharin
charisma
cholera
chromosome
technique

sakarin
karisma
kolera
kromosom
teknik

ch yang lafalnya s atau sy menjadi s

echelon
machine

eselon
mesin

ch yang lafalnya c menjadi c

check
China

cek
Cina

ç (Sanskerta) menjadi s

çabda
çastra

sabda
sastra

e tetap e

effect
description
synthesis

efek
deskripsi
sintesis

ea tetap ea

idealist
habeas

idealis
habeas

ee (Belanda) menjadi e

stratosfeer
systeem

stratosfer
sistem

ei tetap ei

eicosane
eidetic
einsteinium

eikosan
eidetik
einsteinium

eo tetap eo

stereo
geometry
zeolite

stereo
geometri
zeolit

eu tetap eu

neutron
eugenol
europium

neutron
eugenol
europium

f tetap f

fanatic
factor
fossil

fanatik
faktor
fosil

gh menjadi g

sorghum

sorgum

gue menjadi ge

igue
gigue

ige
gige

i pada awal suku kata di muka vokal tetap i

iambus
ion
iota

iambus
ion
iota

ie (Belanda) menjadi i jika lafalnya i

politiek
riem

politik
rim

ie tetap ie jika lafalnya bukan i

variety
patient
efficient

varietas
pasien
efisien

kh (Arab) tetap kh

khusus
akhir

khusus
akhir

ng tetap ng

contingent
congress
linguistics

kontingen
kongres
linguistik

oe (oi Yunani) menjadi e

oestrogen
oenology
foetus

estrogen
enologi
fetus

oo (Belanda) menjadi o

cartoon
proof
pool

kartun
pruf
pul

oo (vokal ganda) tetap oo

zoology
coordination

zoologi
koordinasi

ou menjadi u jika lafalnya u

gouverneur
coupon
contour

gubernur
kupon
kontur

ph menjadi f

phase
physiology
spectograph

fase
fisiologi
spektograf

ps tetap ps

pseudo
psychiatry
psychosomatic

pseudo
psikiatri
psikosomatik

pt tetap pt

pterosaur
pteridology
ptyalin

pterosaur
pteridologi
ptialin

q menjadi k

aquarium
frequency
equator

akuarium
frekuensi
ekuator

rh menjadi r

rhapsody
rhombus
rhythm
rhetoric

rapsodi
rombus
ritme
retorika

sc di muka a, o, u, dan konsonan menjadi sk

scandium
scotapia
scutella
sclerosis
scriptie

skandium
skotapia
skutela
sklerosis
skripsi

sc di muka e, i, dan y menjadi s

scenography
scintillation
scyphistoma

senografi
sintilasi
sifistoma

sch di muka vokal menjadi sk

schema
schizophrenia
scholasticism

skema
skizofrenia
skolastisisme

t di muka i menjadi s jika lafalnya s

ratio
action
patient

rasio
aksi
pasien

th menjadi t

theocracy
orthography
thiopental
thrombosis
methode

teokrasi
ortografi
tiopental
trombosis
metode

u tetap u

unit
nucleolus
structure
institute

unit
nukleolus
struktur
institut

ua tetap ua

dualisme
aquarium

dualisme
akuarium

ue tetap ue

suede
duet

sued
duet

ui tetap ui

equinox
conduite

ekuinoks
konduite

uo tetap uo

fluorescein
quorum
quota

fluoresein
kuorum
kuota

uu menjadi u

prematuur
vacuum

prematur
vakum

v tetap v

vitamin
television
cavalry

vitamin
televisi
kavaleri

x pada awal kata tetap x

xanthate
xenon
xylophone

xantat
xenon
xilofon

x pada posisi lain menjadi ks

executive
taxi
exudation
latex

eksekutif
taksi
eksudasi
lateks

xc di muka e dan i menjadi ks

exception
excess
excision
excitation

eksepsi
ekses
eksisi
eksitasi

xc di muka a, o, u, dan konsonan menjadi ksk

excavation
excommunication
excursive
exclusive

ekskavasi
ekskomunikasi
ekskursif
eksklusif

y tetap y jika lafalnya y

yakitori
yangonin
yen
yuan

yakitori
yangonin
yen
yuan

y menjadi i jika lafalnya i

yttrium
dynamo
propyl
psychology

itrium
dinamo
propil
psikologi

z tetap z

zenith
zirconium
zodiac
zygote

zenith
zirkonium
zodiak
zigot

Konsonan ganda

Konsonan ganda menjadi konsonan tunggal kecuali kalau dapat membingungkan.

Misalnya:

gabbro
accu
effect
commision
ferrum
solfeggio

gabro
aki
efek
komisi
ferum
solfegio

tetapi:

mass

massa

Catatan

  1. Unsur pungutan yang sudah lazim dieja secara Indonesia tidak perlu lagi diubah

Misalnya: kabar, sirsak, iklan, perlu, bengkel, hadir.

  1. Sekalipun dalam ejaan yang disempurnakan huruf q dan x diterima sebagai bagian abjad bahasa Indonesia, kedua huruf itu diindonesiakan menurut kaidah yang terurai di atas. Kedua huruf itu digunakan dalam penggunaan tertentu saja seperti dalam pembedaan nama dan istilah khusus.

Akhiran asing

Di samping pegangan untuk penulisan unsur serapan tersebut di atas, berikut ini didaftarkan juga akhiran-akhiran asing serta penyesuaiannya dalam bahasa Indonesia. Akhiran itu diserap sebagai bagian kata yang utuh.

Kata seperti standardisasi, efektif, dan implementasi diserap secara utuh di samping kata standar, efek, dan implemen.

-aat (Belanda) menjadi -at

advokaat

advokat

-age menjadi -ase

percentage
etalage

persentase
etalase

-al, -eel (Belanda) menjadi -al

structural, structureel
formal, formeel
normal, normaal

struktural
formal
normal

-ant menjadi -an

accountant
informant

akuntan
informan

-ary, -air (Belanda) menjadi -er

complementary, complementair
primary, primair
secondary, secundair

komplementer
primer
sekunder

-(a)tion, -(a)tie (Belanda) menjadi -asi, -si

action, actie
publication, publicatie

aksi
publikasi

-eel (Belanda) menjadi -el

ideëel
materieel
moreel

ideel
materiel
morel

-ein tetap -ein

casein
protein

kasein
protein

-ic, -ics, -ique, -iek, -ica (Belanda) menjadi -ik, -ika

logic, logica
phonetics, phonetiek
physics, physica
dialectics, dialektica
technique, techniek

logika
fonetik
fisika
dialektika
teknik

-ic, -isch (adjektiva Belanda) menjadi -ik

electronic, electronisch
mechanic, mechanisch
ballistic, ballistisch

elektronik
mekanik
balistik

-ical, -isch (Belanda) menjadi -is

economical, economisch
practical, practisch
logical, logisch

ekonomis
praktis
logis

-ile, iel menjadi -il

percentile, percentiel
mobile, mobiel

-ism, -isme (Belanda) menjadi -isme

modernism, modernisme
communism, communisme

modernisme
komunisme

-ist menjadi -is

publicist
egoist

publisis
egois

-ive, -ief (Belanda) menjadi -if

descriptive, descriptief
demonstrative, demonstratief

deskriptif
demonstratif

-logue menjadi -log

catalogue
dialogue

katalog
dialog

-logy, -logie (Belanda) menjadi -logi

technology, technologie
physiology, physiologie
analogy, analogie

teknologi
fisiologi
analogi

-loog (Belanda) menjadi -log

analoog
epiloog

analog
epilog

-oid, -oide (Belanda) menjadi -oid

hominoid, hominoide
anthropoid, anthropoide

hominoid
anthropoid

-oir(e) menjadi -oar

trottoir
repertoire

trotoar
repertoar

-or, -eur (Belanda) menjadi -ur, -ir

director, directeur
inspector, inspecteur
amateur
formateur

direktur
inspektur
amatir
formatur

-or tetap -or

dictator
corrector

diktator
korektor

-ty, -teit (Belanda) menjadi -tas

university, universiteit
quality, qualiteit

universitas
kualitas

-ure, -uur (Belanda) menjadi -ur

structure, struktuur
premature, prematuur

struktur
prematur

V. Pemakaian Tanda Baca

A. Tanda Titik (.)

1.

Tanda titik dipakai pada akhir kalimat yang bukan pertanyaan atau seruan.

Misalnya:

· Ayahku tinggal di Solo.

· Biarlah mereka duduk di sana.

· Dia menanyakan siapa yang akan datang.

· Hari ini tanggal 6 April 1973.

· Marilah kita mengheningkan cipta.

· Sudilah kiranya Saudara mengabulkan permohonan ini.

2.

Tanda titik dipakai di belakang angka atau huruf dalam suatu bagan, ikhtisar, atau daftar.

Misalnya:

a.

III.

Departemen Dalam Negri

A.

Direktorat Jendral Pembangunan Masyarakat Desa

B.

Direktorat Jendral Agraria

1.

b.

1.

Patokan Umum

1.1

Isi Karangan

1.2

Ilustrasi

1.2.1

Gambar Tangan

1.2.2

Tabel

1.2.3

Grafik

Catatan:

Tanda titik tidak dipakai di belakang angka atau huruf dalam suatu bagan atau ikhtisar jika angka atau huruf itu merupakan yang terakhir dalam deretan angka atau huruf.

3.

Tanda titik dipakai untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik yang menunjukkan waktu.

Misalnya:

pukul 1.35.20 (pukul 1 lewat 35 menit 20 detik)

4.

Tanda titik dipakai untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik yang menunjukkan jangka waktu.

Misalnya:

1.35.20 jam (1 jam, 35 menit, 20 detik)

0.20.30 jam (20 menit, 30 detik)

0.0.30 jam (30 detik)

5.

Tanda titik dipakai di antara nama penulis, judul tulisan yang tidak berakhir dengan tanda tanya dan tanda seru, dan tempat terbit dalam daftar pustaka.

Misalnya:

Siregar, Merari. 1920. Azab dan Sengsara. Weltevreden: Balai Poestaka.

6a.

Tanda titik dipakai untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya.

Misalnya:

Desa itu berpenduduk 24.200 orang.

Gempa yang terjadi semalam menewaskan 1.231 jiwa.

6b.

Tanda titik tidak dipakai untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya yang tidak menunjukkan jumlah.

Misalnya:

Ia lahir pada tahun 1956 di Bandung.

Lihat halaman 2345 dan seterusnya.

Nomor gironya 5645678.

7.

Tanda titik tidak dipakai pada akhir judul yang merupakan kepala karangan atau kepala ilustrasi, tabel, dan sebagainya.

Misalnya:

Acara Kunjungan Adam Malik

Bentuk dan Kedaulatan (Bab I UUD'45)

Salah Asuhan

8.

Tanda titik tidak dipakai di belakang

(1) alamat pengirim dan tanggal surat atau
(2) nama dan alamat penerima surat.

Misalnya:

Jalan Diponegoro 82

Jakarta (tanpa titik)

1 April 1985 (tanpa titik)

Yth. Sdr. Moh. Hasan (tanpa titik)

Jalan Arif 43 (tanpa titik)

Palembang (tanpa titik)

Atau:

Kantor Penempatan Tenaga (tanpa titik)

Jalan Cikini 71 (tanpa titik)

Jakarta (tanpa titik)

B. Tanda Koma (,)

1.

Tanda koma dipakai di antara unsur-unsur dalam suatu perincian atau pembilangan.

Misalnya:

· Saya membeli kertas, pena, dan tinta.

· Surat biasa, surat kilat, ataupun surat khusus memerlukan perangko.

· Satu, dua, ... tiga!

2.

Tanda koma dipakai untuk memisahkan kalimat setara yang satu dari kalimat setara berikutnya yang didahului oleh kata seperti tetapi atau melainkan.

Misalnya:

· Saya ingin datang, tetapi hari hujan.

· Didi bukan anak saya, melainkan anak Pak Kasim.

3a.

Tanda koma dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat jika anak kalimat itu mendahului induk kalimatnya.

Misalnya:

· Kalau hari hujan, saya tidak akan datang.

· Karena sibuk, ia lupa akan janjinya.

3b.

Tanda koma tidak dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat jika anak kalimat itu mengiringi induk kalimatnya.

Misalnya:

· Saya tidak akan datang kalau hari hujan.

· Dia lupa akan janjinya karena sibuk.

· Dia tahu bahwa soal itu penting.

4.

Tanda koma dipakai di belakang kata atau ungkapan penghubung antarkalimat yang terdapat pada awal kalimat. Termasuk di dalamnya oleh karena itu, jadi, lagi pula, meskipun begitu, akan tetapi.

Misalnya:

· ... Oleh karena itu, kita harus berhati-hati.

· ... Jadi, soalnya tidak semudah itu.

5.

Tanda koma dipakai untuk memisahkan kata seperti o, ya, wah, aduh, kasihan dari kata yang lain yang terdapat di dalam kalimat.

Misalnya:

· O, begitu?

· Wah, bukan main!

· Hati-hati, ya, nanti jatuh.

6.

Tanda koma dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain dalam kalimat.
(Lihat juga pemakaian tanda petik, Bab V, Pasal L dan M.)

Misalnya:

· Kata Ibu, "Saya gembira sekali."

· "Saya gembira sekali," kata Ibu, "karena kamu lulus."

7.

Tanda koma dipakai di antara

(i) nama dan alamat,
(ii) bagian-bagian alamat,
(iii) tempat dan tanggal, dan
(iv) nama tempat dan wilayah atau negeri yang ditulis berurutan.

Misalnya:

· Surat-surat ini harap dialamatkan kepada Dekan Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia, Jalan Raya Salemba 6, Jakarta.

· Sdr. Abdullah, Jalan Pisang Batu 1, Bogor

· Surabaya, 10 mei 1960

· Kuala Lumpur, Malaysia

8.

Tanda koma dipakai untuk menceraikan bagian nama yang dibalik susunannya dalam daftar pustaka.

Misalnya:

Alisjahbana, Sutan Takdir. 1949 Tatabahasa Baru Bahasa Indonesia. Jilid 1 dan 2. Djakarta: PT Pustaka Rakjat.

9.

Tanda koma dipakai di antara bagian-bagian dalam catatan kaki.

Misalnya:

W.J.S. Poerwadarminta, Bahasa Indonesia untuk Karang-mengarang (Yogyakarta: UP Indonesia, 1967), hlm. 4.

10.

Tanda koma dipakai di antara nama orang dan gelar akademik yang mengikutinya untuk membedakannya dari singkatan nama diri, keluarga, atau marga.

Misalnya:

B. Ratulangi, S.E.

Ny. Khadijah, M.A.

11.

Tanda koma dipakai di muka angka persepuluhan atau di antara rupiah dan sen yang dinyatakan dengan angka.

Misalnya:

12,5 m

Rp12,50

12.

Tanda koma dipakai untuk mengapit keterangan tambahan yang sifatnya tidak membatasi.
(Lihat juga pemakaian tanda pisah, Bab V, Pasal F.)

Misalnya

· Guru saya, Pak Ahmad, pandai sekali.

· Di daerah kami, misalnya, masih banyak orang laki-laki yang makan sirih.

· Semua siswa, baik yang laki-laki maupun yang perempuan, mengikuti latihan paduan suara.

Bandingkan dengan keterangan pembatas yang pemakaiannya tidak diapit tanda koma:

Semua siswa yang lulus ujian mendaftarkan namanya pada panitia.

13.

Tanda koma dapat dipakai—untuk menghindari salah baca—di belakang keterangan yang terdapat pada awal kalimat.

Misalnya:

Dalam pembinaan dan pengembangan bahasa, kita memerlukan sikap yang bersungguh-sungguh.

Atas bantuan Agus, Karyadi mengucapkan terima kasih.

Bandingkan dengan:

Kita memerlukan sikap yang bersungguh-sungguh dalam pembinaan dan pengembangan bahasa.

Karyadi mengucapkan terima kasih atas bantuan Agus.

14.

Tanda koma tidak dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain yang mengiringinya dalam kalimat jika petikan langsung itu berakhir dengan tanda tanya atau tanda seru.

Misalnya:

"Di mana Saudara tinggal?" tanya Karim.

"Berdiri lurus-lurus!" perintahnya.

C. Tanda Titik Koma (;)

1.

Tanda titik koma dapat dipakai untuk memisahkan bagian-bagian kalimat yang sejenis dan setara.

Misalnya:

Malam makin larut; pekerjaan belum selesai juga.

2.

Tanda titik koma dapat dipakai sebagai pengganti kata penghubung untuk memisahkan kalimat yang setara di dalam kalimat majemuk.

Misalnya:

Ayah mengurus tanamannya di kebun itu; Ibu sibuk bekerja di dapur; Adik menghapal nama-nama pahlawan nasional; saya sendiri asyik mendengarkan siaran "Pilihan Pendengar".

D. Tanda Titik Dua (:)

1a.

Tanda titik dua dapat dipakai pada akhir suatu pernyataan lengkap jika diikuti rangkaian atau pemerian.

Misalnya:

· Kita sekarang memerlukan perabotan rumah tangga: kursi, meja, dan lemari.

· Hanya ada dua pilihan bagi pejuang kemerdekaan itu: hidup atau mati.

1b.

Tanda titik dua tidak dipakai jika rangkaian atau perian itu merupakan pelengkap yang mengakhiri pernyataan

Misalnya:

· Kita memerlukan kursi, meja, dan lemari.

· Fakultas itu mempunyai Jurusan Ekonomi Umum dan Jurusan Ekonomi Perusahaan.

2.

Tanda titik dua dipakai sesudah kata atau ungkapan yang memerlukan pemerian.

Misalnya:

a.

Ketua
Sekretaris
Bendahara

:
:
:

Ahmad Wijaya
S. Handayani
B. Hartawan

b.

Tempat Sidang
Pengantar Acara
Hari
Waktu

:
:
:
:

Ruang 104
Bambang S.
Senin
09.30

3.

Tanda titik dua dapat dipakai dalam teks drama sesudah kata yang menunjukkan pelaku dalam percakapan.

Misalnya:

Ibu

:

(meletakkan beberapa kopor) "Bawa kopor ini, Mir!"

Amir

:

"Baik, Bu." (mengangkat kopor dan masuk)

Ibu

:

"Jangan lupa. Letakkan baik-baik!" (duduk di kursi besar)

4.

Tanda titik dua dipakai:

(i) di antara jilid atau nomor dan halaman,
(ii) di antara bab dan ayat dalam kitab suci,
(iii) di antara judul dan anak judul suatu karangan, serta
(iv) nama kota dan penerbit buku acuan dalam karangan.

Misalnya:

Tempo, I (1971), 34:7

Surah Yasin:9

Karangan Ali Hakim, Pendidikan Seumur Hidup: Sebuah Studi, sudah terbit.

Tjokronegoro, Sutomo, Tjukupkah Saudara membina Bahasa Persatuan Kita?, Djakarta: Eresco, 1968.

E. Tanda Hubung (–)

1.

Tanda hubung menyambung suku-suku kata dasar yang terpisah oleh penggantian baris.

Misalnya:

Di samping cara-cara lama itu ada ju-

ga cara yang baru.

Suku kata yang berupa satu vokal tidak ditempatkan pada ujung baris atau pangkal baris.

Misalnya:

Beberapa pendapat mengenai masalah itu

telah disampaikan ....

Walaupun sakit, mereka tetap tidak mau

beranjak ....

atau

Beberapa pendapat mengenai masalah

itu telah disampaikan ....

Walaupun sakit, mereka tetap tidak

mau beranjak ....

bukan

Beberapa pendapat mengenai masalah i-

tu telah disampaikan ....

Walaupun sakit, mereka tetap tidak ma-

u beranjak ....

2.

Tanda hubung menyambung awalan dengan bagian kata di belakangnya atau akhiran dengan bagian kata di depannya pada pergantian baris.

Misalnya:

Kini ada cara yang baru untuk meng-

ukur panas.

Kukuran baru ini memudahkan kita me-

ngukur kelapa.

Senjata ini merupakan alat pertahan-

an yang canggih.

Akhiran -i tidak dipenggal supaya jangan terdapat satu huruf saja pada pangkal baris.

3.

Tanda hubung menyambung unsur-unsur kata ulang.

Misalnya:

anak-anak, berulang-ulang, kemerah-merahan.

Angka 2 sebagai tanda ulang hanya digunakan pada tulisan cepat dan notula, dan tidak dipakai pada teks karangan.

4.

Tanda hubung menyambung huruf kata yang dieja satu-satu dan bagian-bagian tanggal.

Misalnya:

p-a-n-i-t-i-a

8-4-1973

5.

Tanda hubung boleh dipakai untuk memperjelas

(i) hubungan bagian-bagian kata atau ungkapan, dan (ii) penghilangan bagian kelompok kata.

Misalnya:

· ber-evolusi

· dua puluh lima-ribuan (20 x 5000)

· tanggung jawab-dan kesetiakawanan-sosial

Bandingkan dengan:

· be-revolusi

· dua-puluh-lima-ribuan (1 x 25000)

· tanggung jawab dan kesetiakawanan sosial

6.

Tanda hubung dipakai untuk merangkaikan

(i) se- dengan kata berikutnya yang dimulai dengan huruf kapital,
(ii) ke- dengan angka,
(iii) angka dengan -an,
(iv) singkatan berhuruf kapital dengan imbuhan atau kata, dan
(v) nama jabatan rangkap

Misalnya

se-Indonesia, se-Jawa Barat, hadiah ke-2, tahun 50-an, mem-PHK-kan, hari-H, sinar-X, Menteri-Sekretaris Negara

7.

Tanda hubung dipakai untuk merangkaikan unsur bahasa Indonesia dengan unsur bahasa asing.

Misalnya:

di-smash, pen-tackle-an

F. Tanda Pisah (—)

1.

Tanda pisah membatasi penyisipan kata atau kalimat yang memberi penjelasan di luar bangun kalimat.

Misalnya:

Kemerdekaan bangsa itu—saya yakin akan tercapai—diperjuangkan oleh bangsa itu sendiri.

2.

Tanda pisah menegaskan adanya keterangan aposisi atau keterangan yang lain sehingga kalimat menjadi lebih jelas.

Misalnya:

Rangkaian temuan ini—evolusi, teori kenisbian, dan kini juga pembelahan atom—telah mengubah persepsi kita tentang alam semesta.

3.

Tanda pisah dipakai di antara dua bilangan atau tanggal dengan arti 'sampai ke' atau 'sampai dengan'.

Misalnya:

1910—1945

tanggal 5—10 April 1970

Jakarta—Bandung

Catatan:

Dalam pengetikan, tanda pisah dinyatakan dengan dua buah tanda hubung tanpa spasi sebelum dan sesudahnya.

G. Tanda Elipsis (...)

1.

Tanda elipsis dipakai dalam kalimat yang terputus-putus.

Misalnya:

· Kalau begitu ... ya, marilah kita bergerak.

2.

Tanda elipsis menunjukkan bahwa dalam suatu kalimat atau naskah ada bagian yang dihilangkan.

Misalnya:

· Sebab-sebab kemerosotan ... akan diteliti lebih lanjut.

Catatan:

Jika bagian yang dihilangkan mengakhiri sebuah kalimat, perlu dipakai empat buah titik; tiga buah untuk menandai penghilangan teks dan satu untuk menandai akhir kalimat.

Misalnya:

Dalam tulisan, tanda baca harus digunakan dengan hati-hati ....

H. Tanda Tanya (?)

1.

Tanda tanya dipakai pada akhir kalimat tanya.

Misalnya:

· Kapan ia berangkat?

· Saudara tahu, bukan?

2.

Tanda tanya dipakai di dalam tanda kurung untuk menyatakan bagian kalimat yang disangsikan atau yang kurang dapat dibuktikan kebenarannya.

Misalnya:

· Ia dilahirkan pada tahun 1683 (?).

· Uangnya sebanyak 10 juta rupiah (?) hilang.

I. Tanda Seru (!)

Tanda seru dipakai sesudah ungkapan atau pernyataan yang berupa seruan atau perintah yang menggambarkan kesungguhan, ketidakpercayaan, ataupun rasa emosi yang kuat.

Misalnya:

· Alangkah seramnya peristiwa itu!

· Bersihkan kamar itu sekarang juga!

· Masakan! Sampai hati juga ia meninggalkan anak-istrinya!

· Merdeka!

J. Tanda Kurung ((...))

1.

Tanda kurung mengapit keterangan atau penjelasan.

Misalnya:

· Bagian Perencanaan sudah selesai menyusun DIK (Daftar Isian Kegiatan) kantor itu.

2.

Tanda kurung mengapit keterangan atau penjelasan yang bukan bagian integral pokok pembicaraan.

Misalnya:

· Sajak Tranggono yang berjudul "Ubud" (nama tempat yang terkenal di Bali) ditulis pada tahun 1962.

· Keterangan itu (lihat Tabel 10) menunjukkan arus perkembangan baru dalam pasaran dalam negeri.

3.

Tanda kurung mengapit huruf atau kata yang kehadirannya di dalam teks dapat dihilangkan.

Misalnya:

· Kata cocaine diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi kokain(a).

· Pejalan kaki itu berasal dari (kota) Surabaya.

4.

Tanda kurung mengapit angka atau huruf yang memerinci satu urutan keterangan.

Misalnya:

· Faktor produksi menyangkut masalah (a) alam, (b) tenaga kerja, dan (c) modal.

K. Tanda Kurung Siku ([...])

1.

Tanda kurung siku mengapit huruf, kata, atau kelompok kata sebagai koreksi atau tambahan pada kalimat atau bagian kalimat yang ditulis orang lain. Tanda itu menyatakan bahwa kesalahan atau kekurangan itu memang terdapat di dalam naskah asli.

Misalnya:

· Sang Sapurba men[d]engar bunyi gemerisik.

2.

Tanda kurung siku mengapit keterangan dalam kalimat penjelas yang sudah bertanda kurung.

Misalnya:

· Persamaan kedua proses ini (perbedaannya dibicarakan di dalam Bab II [lihat halaman 35–38]) perlu dibentangkan di sini.

L. Tanda Petik ("...")

1.

Tanda petik mengapit petikan langsung yang berasal dari pembicaraan dan naskah atau bahan tertulis lain.

Misalnya:

· "Saya belum siap," kata Mira, "tunggu sebentar!"

· Pasal 36 UUD 1945 berbunyi, "Bahasa negara ialah Bahasa Indonesia."

2.

Tanda petik mengapit judul syair, karangan, atau bab buku yang dipakai dalam kalimat.

Misalnya:

· Bacalah "Bola Lampu" dalam buku Dari Suatu Masa, dari Suatu Tempat.

· Karangan Andi Hakim Nasoetion yang berjudul "Rapor dan Nilai Prestasi di SMA" diterbitkan dalam Tempo.

· Sajak "Berdiri Aku" terdapat pada halaman 5 buku itu.

3.

Tanda petik mengapit istilah ilmiah yang kurang dikenal atau kata yang mempunyai arti khusus.

Misalnya:

· Pekerjaan itu dilaksanakan dengan cara "coba dan ralat" saja.

· Ia bercelana panjang yang di kalangan remaja dikenal dengan nama "cutbrai".

4.

Tanda petik penutup mengikuti tanda baca yang mengakhiri petikan langsung.

Misalnya:

· Kata Tono, "Saya juga minta satu."

5.

Tanda baca penutup kalimat atau bagian kalimat ditempatkan di belakang tanda petik yang mengapit kata atau ungkapan yang dipakai dengan arti khusus pada ujung kalimat atau bagian kalimat.

Misalnya:

· Karena warna kulitnya, Budi mendapat julukan "Si Hitam".

· Bang Komar sering disebut "pahlawan"; ia sendiri tidak tahu sebabnya.

Catatan:

Tanda petik pembuka dan tanda petik penutup pada pasangan tanda petik itu ditulis sama tinggi di sebelah atas baris.

M. Tanda Petik Tunggal ('...')

1.

Tanda petik tunggal mengapit petikan yang tersusun di dalam petikan lain.

Misalnya:

· Tanya Basri, "Kau dengar bunyi 'kring-kring' tadi?"

· "Waktu kubuka pintu depan, kudengar teriak anakku, 'Ibu, Bapak pulang', dan rasa letihku lenyap seketika," ujar Pak Hamdan.

2.

Tanda petik tunggal mengapit makna, terjemahan, atau penjelasan kata atau ungkapan asing. (Lihat pemakaian tanda kurung, Bab V, Pasal J.)

Misalnya:

· feed-back 'balikan'

N. Tanda Garis Miring (/)

1.

Tanda garis miring dipakai di dalam nomor surat dan nomor pada alamat dan penandaan masa satu tahun yang terbagi dalam dua tahun takwim.

Misalnya:

No. 7/PK/1973

Jalan Kramat III/10

tahun anggaran 1985/1986

2.

Tanda garis miring dipakai sebagai pengganti kata atau, tiap.

Misalnya:

dikirimkan lewat darat/laut

(dikirimkan lewat darat atau laut)

harganya Rp25,00/lembar

(harganya Rp25,00 tiap lembar)

O. Tanda Penyingkat (Apostrof) (')

Tanda penyingkat menunjukkan penghilangan bagian kata atau bagian angka tahun.

Misalnya:

Ali 'kan kusurati.

('kan = akan)

Malam 'lah tiba.

('lah = telah)

1 Januari '88

('88 = 1988)

0 hay...:

Posting Komentar